Sex With My Best Friend

"I miss you Sweetie..", dipeluknya tubuhku seperti berabad-abad tidak berjumpa. Huh.. sure miss me, tapi dia nikahin juga sialan itu dan dibikin hamil lagi! Sialan. Aku benci bener sama makhluk ini. Tapi mau nggak mau kubalas juga pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya. Laki-laki sialan yang pernah kuanggap sahabat, yang ngotot we should be lovers.. eeh, aku udah pura-pura mau.. dia malah nikahin tunangan begonya yang sama-sama Indonesian denganku. Pengkhianat!

Usiaku 28 tahun, menetap di Inggris dan bekerja di sebuah rumah sakit setempat. Wajahku biasa saja, tapi kupikir proporsi tubuhku lumayan karena dua kali seminggu aku mengajar senam di sebuah gym di desa kami, dan sesekali aku juga mengajarkan body language pada teman-teman sesama asian.. Kalau sama bule belum berani karena walau mereka tertarik, tapi di sini body language belum dikenal. Kulitku sawo matang, ukuran dada 34A. Di sini teman-teman menyebutku petite. Dan tambah terlihat petite karena rambutku pendek lebih pendek dari model Demi Moore tahun 90-an.

Aku lumayan tertutup dengan pria.. karena sepertinya kebanyakan either jahat, atau pengennya seks mulu. Kalau disuruh milih malah aku lebih suka menikmati pemandangan perempuan cantik lewat daripada pria yang makin cakep makin brengsek. Apalagi usia belasan aku berkenalan dengan Duncan, yang lumayan tertutup dengan wanita, dengan alasan yang sama. Awal pertemanan kami penuh dengan hina-menghina. Saking bencinya dengan lawan jenis. Tapi akhirnya kami malah berteman dekat sekali.. orangtua dan keluarganya sama sekali ngga keberatan kalau aku menginap di rumah mereka.. sekamar dengan Duncan, apalagi pintu kamar sering kuminta terbuka supaya kalau ortunya lewat, keliatan kami Cuma main video game, waktu itu musim Mortal Combat, sampe malem ribut2.. juga dengan saudara kembarnya.. sampai malah Ibunya yang bakal tutup pintu.. katanya brisik.

Singkatnya dua tahun yang lalu Duncan ngajak pacaran.. berhubung toh ngga minta seks.. aku mau-mau aja.. biar dia seneng.. Lalu setahun yang lalu dia liburan ke Indonesia, aku ngga bisa ikut nemenin. Dua bulan kemudian dia pulang, dan akhirnya cerita he met an Indonesian girl usia 4 years younger than us. Dia juga bilang they had sex and she was a virgin makanya mereka tunangan, dia janji akan nikahin si brengsek. Ya bullshit! Bagiku mana ada lagi cewe usia 23 tahun berani ngajak bule nyasar have sex kalo ngga dasar murahan, kampungan dll dll. Aku marah sekali, marahnya kok masih ada aja perempuan sebangsaku yang ngga ada harga diri! Sejak itu dia ngga pernah nyebut cewe brengsek itu. Hubungan kami berlangsung biasa, walau keluarga dan temennya sering heran, dia udah tunangan kok masih terus jalan denganku. Bagiku, tunangan kek apa kek tetep he's mine and stayed mine. Waktu akhirnya dia menikah di Indonesia dan membawa istrinya ke sini, aku tau istrinya ngga bakal suka dengan kehadiranku karena dia pernah melarang Duncan tetap bersahabat denganku, tapi tetep aja aku dateng ke rumahnya sebulan setelah dia pulang dengan alasan: bawain makanan Indonesia untuk istrinya yang katanya sedang ngidam. Kebetulan si brengsek lagi dibawa belanja oleh seisi rumah kecuali Duncan, yang aku tau jam-jam segini pasti baru pulang dari kerja. Dia ngga bisa nolak waktu aku datang dan nyelonong aja masuk kamarnya.. kamar mereka.

Tangannya turun ke pinggangku, ngga bisa sampai bokong, dia terlalu tinggi atau aku yang terlalu pendek, 160 cm. Duncan atleast 180 cm. Sebelum empat bulan yang lalu dia berkerja lumayan physical selama dua tahun installing securities stuffs sambil kuliah, jadi badannya bukan hanya tinggi, tapi well built. Terakhir kami bertemu, sebelum dia berangkat menikahi si nyebelin di Indonesia, jangankan pelukan begini.. megang punggungnya aja aku udah merasa seperti kesetrum canggung dan kalau dipeluk juga aku leloncatan, mungkin karena walau pacaran waktu itu aku diam-diam anggap dia sahabat. Dia juga one of those bule pemalu.. auk kok dapetnya pemalu mulu? Tapi kayaknya kali ini malunya hilang, mungkin karena sudah menikah dan kali istrinya yang lagi hamil muda itu males ngeladenin dia? Bego.

Mata birunya menatapku dalam-dalam lama-lama. Apa yang di pikirannya? Menebak pikiranku? Huh! "I've always missed you too while we're apart. You never tried make any contact with me?", taktik bego bikin guilty- if we're not fooling each other anyway? Kutarik wajahku ke belakang, makin belagak lugu, kuraba wajahnya pura-pura kangen. Pura-pura? I do miss him! Not like this though, I miss owning him! Dulu dia bener-bener milikku walau dia tunangan dengan si bego yang kemaruk dibawa ke LN itu. Dia milikku. His time and heart used to be mine!

Wajahnya merunduk mendekat membuatku otomatsis memejamkan mata, terasa lembut bener bibirnya mencium dahiku. Friendly kisses. Kutengadahkan wajahku, mengundangnya mencium bibirku. Pelan-pelan bibirnya bergerak ke bibirku, tangannya terasa dingin di tengkukku. Kuraba tepi wajahnya sambil kubuka bibirku. Tangannya terasa makin kuat mencengkeram tengkukku, satu lagi di punggung menarikku semakin dekat dan bibirnya juga membuka, lidahnya terasa menyelusup masuk ke mulutku, pelan-pelan, seperti ragu. Ragu? Kutarik kepalanya semakin merapat, lidahku berpindah dari bawah lidahnya naik ke atas lidahnya, meraba langit-langit dan akhirnya turun menjilati lidahnya. Rasanya seperti kesetrum kalau ga Cuma nyungsep-nyungsep sembunyi di bawah seperti yang biasa kulakukan kalau aku ngga yakin dengan seseorang. Sepertinya dia juga merasa begitu, karena kudengar dia sedikit mengerang, bibirnya semakin lekat di bibirku dan lidahnya makin berani menjilati dan menekan lidahku. Adduh! Kalau begini sebodo sahabat! Rangsangannya sampai ke vaginaku. Rasanya seperti berdenyut-denyut kecil, nikmat tapi bener-bener needing more..

"Adduh.. Duncan..",
Tiba-tiba ciumannya berhenti. ", Aduh?", Sialan.. aku kok bahasa Indonesia? Ntar bikin dia inget istrinya lagi.
"Yes, adduh. You make me feel..", kutarik lagi wajahnya dan kami kembali berciuman.
Dia? Kali rindu someone he used to love. Aku? Auk, bener-bener horny. Siapa yang mbodohin siapa ya? Rasanya bener-bener ini ga cukup, tanganku mulai meraba dadanya.. ni orang tegep bener. Jemariku masuk dari balik kausnya, kulitnya hangat, ototnya otot beneran, dan terasa hangat, tangan kananku bergerak meraba lebih jauh.. terasa jantungnya berdegup kuat. Kausnya berantakan tertarik ke atas ngga keruan karena tanganku bergerilya. Masih sambil menciumku kedua tangannya melepas diriku dan mencoba membuka kausnya. Kutarik wajahku menjauh supaya dia bisa membuka kausnya. Gak kubiarkan lama, kuciumi dadanya, perutnya, sambil dia sibuk membuka jeansnya dan boxer shortnya.. kujilati persis dibawah pusarnya.. perutnya rata, sedikit berbulu rada blonde tapi halus dan lebih gelap.

"Oh, Mel..", dia mendesah-desah waktu aku berlutut bergerak menciumi tubuhnya, menjilatinya semakin ke bawah. Sengaja ngga ke penisnya dulu karena I needed time to think, iya ngga ya..? Sambil juga kulitnya terasa enak sekali. Sedikit-sedikit kugigit dan kuhisap daerah bawah pusarnya. Tanganku merabai bagian dalam pahanya. "Mel.. Mel..", dia membungkuk sedikit melihatku waktu aku melihat ke atas sambil menjulurkan lidah semakin dekat ke penisnya. Jari-jarinya merabai rambutku.. Sambil masih saling menatap kurabai skrotumnya, terasa agak keras tapi kulitnya lembut.. halus.. kuliat dia menggigit bibir bawahnya menatapku tak berkedip. Dengan tangan kanan kuraba batang penisnya yang terasa hangat sekali.. dan keras.. kuraba semakin kuat dan akhirnya kupegang dan kugerakkan tanganku sedikit naik turun. Matanya memejam serius, kepalanya agak terdongak kali ini. Aku pun mengalihkan pandangan ke penisnya, dari tadi aku cenderung keeping eye contact.

Penisnya lumayan besar bagiku yang memang lebih terbiasa dengan pria kaukasia. Mungkin Cuma 7 inch lebih dikit, tapi diameternya sedikit nyeremin.. Seumur-umur 28 tahun, baru sekali aku ngeliat milik cowo asian. Kupikir sampai sekarang aku masih lumayan impressed, walau jauh lebih kecil tapi kupikir lebih impressive, setidaknya that one person. Tapi Duncan's juga menarik banget.. rapih, mungkin karena disunat secara medis. Penisnya sudah ereksi penuh kurasa.. kugenggam penisnya semakin kuat.. dan kugerakkan tanganku naik turun, sambil tanganku satu lagi meraba paha bagian dalamnya.. kudongakkan wajahku mencuri pandang ke atas.. dia kembali menontoniku.. masih sambil berpandangan kujilat sedikit ujung penisnya.. terasa cairan agak kental yang keluar dari ujungnya, kujilati sampai habis. Wajahnya memerah, lidahku semakin berani menjilati leher penisnya.. wajahnya kembali terdongak dan matanya mungkin memejam.. ngga keliatan.. ngga terasa mataku juga terpejam.. sebodo cerita-cerita dan film-film bego, aku bener-bener menikmati miliknya.. kuemut bagian penisnya yang bisa masuk ke mulutku. Kuhisap dan benar-benar kunikmati, kujilati lingkaran leher penisnya, lalu di bagian bawah lehernya yang kudengar dan kelihatannya memang salah satu daerah paling sensitif.

Belon pernah aku oral cowok dan ngga suka dijilatin dan digelitik di daerah yang satu ini. Dan memang kudengar dia lebih ribut sewaktu lidahku sibuk di daerah itu. Kulepaskan tanganku menumpu di bagian bawah penisnya hingga berdiri lebih tegak. Kumasukkan kepalanya ke mulutku, kukeluar-masukkan lambat-lambat sambil kuhisap dan kujilati di dalam lekat-lekat.
"Mel, oh.. Mel..", kudengar dia mengerang dan terasa pinggulnya bergerak ke depan mendorongkan penisnya semakin dalam ke mulutku, maju mundur.

Kuletakkan pelan tanganku ke pangkal pahanya, penisnya yang sudah tegak sendiri semakin dalam keluar masuk di mulutku, sambil kugerakkan juga wajahku dan semakin dalam kumasukkan dalam mulutku. Tiba-tiba terasa kedua tangannya mencengkram rambutku yang pendek sekali, menahan kepalaku, panggulnya bergerak keluar masuk lebih cepat, penisnya hampir membuatku tersedak.. kupikir dia nyaris sampai.. tau-tau penisnya ditarik keluar dari mulutku, dengan dua tangan di bawah ketiakku tubuhku ditariknya berdiri, diciuminya bibirku terburu-buru sampai nafasnya terdengar sekali. Agak kasar, tapi aku malah suka. Kupejamkan mataku dan kuhisap lidahnya dalam mulutku.. ngga terasa aku mengerang agak kuat dan mendadak dia berhenti.. aku tau, dia takut kedengaran keluarganya di luar kalau-kalau sudah kembali dari belanja.

Dari tadi aku masih berpakaian lengkap, hanya jaketku kutinggalkan di ruang tamu. Matanya terlihat ragu walau nafasnya jelas masih keliatan naik-turun. Kurapatkan tubuhku, tapi sambil kubuka kancing kemejaku terburu-buru. Feel so horny, not gonna let him change his mind. Payudaraku biasa sekali, 34A, tapi bra putih yang kukenakan menaikkan payudaraku sedemikian rupa, dan aku tau dia selalu suka liat kulit sawo matangku memakai warna putih (walau aku lebih suka warna gelap). Katanya kontras dan sexy. Matanya terus menatapi kulit tubuhku yang kini mulai terpampang di hadapannya. Ga tau dia sadar atau ngga tangannya meremasi penisnya tanpa malu di hadapanku. Aku jadi ikut berani, tanpa membuka kancing bra kuremasi payudaraku sendiri dua-dua sampe bibirnya terlihat rada melongo menatapku dengan tatapan terangsang, dengan dua tangan diurutinya penisnya semakin intens. Kuturunkan cup braku ke bawah, masih melekat di dadaku tapi payudaraku kini terpampang jelas. Kuremasi payudaraku bersamaan, sesekali kucubiti puting susuku sendiri sambil mendesis kenikmatan.

"Duncan.. Duncan.. ough..", kubayangkan Duncan yang meremasi payudaraku.
Rasanya tubuhku melemas, supaya terdukung aku mundur bersandar ke meja kaca rias di belakangku. Kucubiti putingku semakin kuat dan kugigiti bibir bawahku. Mataku terpejam tapi aku tau Duncan bergerak mendekatiku, tangannya memeluk pinggangku, wajahnya terasa dekat sekali dan adduh, leherku diciuminya, dijilati enaak sekali. Mataku tetap terpejam asik meremasi payudara sendiri sekuat-kuatnya sementara jarinya mencari-cari retsleting rokku. Aku waktu itu mengenakan rok panjang hitam bahan lycra, panjang semata kaki dan sepatu boot heel langsing yang bahannya leather hitam tipis melekat erat di betisku sampai lutut, biar sopan maksudku kalau ketemu istrinya.

No zip on my skirt, akhirnya dia nyadar juga. Dicobanya menarik turun rokku ke bawah tapi mungkin repot, dari kiri kanan ditariknya rokku ke atas sambil merabai pahaku, digulung dan diselipkannya di waist band kiri kanan, masih menciumi leher dan bahuku jarinya merabai perutku dan turun ke selangkanganku, menekan kemaluanku dari luar. Malu juga, pasti celana dalam g-string yang kukenakan sudah basah! Untung aja warna putih. Tekanan-tekanan jarinya membuatku kegelian dan semakin terangsang. I really need more.
"Duncan I want you.. I need you.. please..", kudengar diriku memelas tergesa-gesa.
Duncan menaikkan tubuhku ke atas meja, kukangkangkan kedua pahaku lebar-lebar mengundangnya masuk, tapi dia malah merunduk sambil meremasi penisnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya menekan perutku. Kudengar diriku sendiri mengerang, "adduh.. oh please..", bener-bener aku lemes. Keterlaluan dia, g-stringku ditarikkan ke samping, dengan sebelah tangan bibir labium mayoraku dikuakkannya dan vaginaku dijilati perlahan-lahan. Lidahnya terasa kesat dan menyapu klitorisku yang sudah sensitif sekali.

"Duncan.. gosh.. don't stop.. please.."
Lidahnya bener-bener meraba seluruh daerah intimku, dari bawah ke atas ke ujung klitorisku.. rasanya enaak sekali, mataku terasa berat untuk dibuka.. vaginaku terasa basah sekali, ngga tau apa cairanku atau dia yang meludahinya. Kupejamkan saja mataku menikmati lidahnya. Sesekali klitorisku terasa seperti dihisap dan dijepit dengan bibirnya sampai tubuhku terasa lemas dan panas dingin. Kuangkat tanganku memegangi pinggiran bingkai kaca di belakangku waktu mulutnya ganti menghisap payudaraku kuat-kuat. Aku memang pernah cerita suka sekali waktu salah satu mantanku memperlakukan payudaraku kasar cenderung brutal. Mungkin dia ingat karena dia juga menggigiti putingku bergantian. Aduh, enak sekali, tapi rasanya nanggung..
"I need you in me..", pintaku pasrah.

Tapi bukannya memasukkan penisnya, dia malah menghisap putingku semakin kuat dan menusukkan jarinya ke dalam vaginaku keluar masuk satu jari lagi menggelitiki klitorisku. Adduh, kugigiti bibirku menahan jangan sampe aku njerit-jerit ribut, sampai sakit bibirku. Aku dimasturbasi sambil kulihat tangannya yang satu lagi semakin kaku mengonani penisnya. Kubuka pahaku semakin lebar, satu lagi jarinya ditambahkan masuk ke vaginaku. Rasanya enak sekali. Begitu saja sudah enak sekali. Kurasakan vaginaku yang sudah basah mencengkram kedua jarinya, terasa kenikmatan merambat di perut bawahku, panggulku kugerakkan naik turun. Nafasku semakin cepat.. Tidak! Kudorong dirinya menjauh sedikit.
"I want you..", terengah-engah kucoba mempengaruhinya. Aku tau dia ingin menghindari intercourse. Kuturunkan g-stringku cepat, kutarik dia mendekat Kupegang penisnya yang sudah keras sekali, kuarahkan ke klitorisku. Kami sama-sama memandangi penisnya waktu kepala penisnya kutekankan kuat-kuat ke klitorisku, mengoleskan cairan yang keluar dari kepala penisnya ke bagian lembut klitorisku. Nikmat sekali, kupejamkan mataku sambil terus menggerakkan penisnya menggaruki klitorisku atas dan ke bawah.

", Duncan please.. I need you..", aku sengaja merintih nikmat agak kuat.. berharap he'd fuck me there. Ditariknya aku turun dari meja rias. Belum sempat berpikir dicampakkannya tubuhku kembali ke meja itu menghadap kaca! Sekilas kukira dia marah atau gila. Kulihat sekilas wajahku sendiri di kaca sudah kusut, horny ngga keruan. Terasa dari belakang pinggang dan perutku ditahannya dengan satu tangan.. adduh, apa dia mau anal aku? Perutku ditopangnya, pantatku agak naik.. Ampun.. sudah terbayang sakit di benakku.. kupejamkan mataku sambil tanganku berpegangan pada tepi bingkai kaca di hadapanku. Terasa ujung penisnya di tepi luar anusku.. not there! Dalam hati aku sudah panik, kugigit bibirku bersiap menahan sakit.

"MEL!", kudengar dia menggeram tertahan, penisnya didorongkan masuk jauh dalam vaginaku, tapi dari belakang.. sakit minta ampun! Bagian tepi liang vaginaku terasa sakit waktu pertama-tama dia berusaha memasukkan penisnya--aku lega sekali ngga dianal tapi spontan kepalaku terdongak dengan dorongannya yang terlalu cepat dan penisnya terasa terlalu besar untukku.
"Adduh sakit! Duncan!", dahiku terjedut ke kaca di depanku.
Wajahku tertempel ke kaca tapi dia seperti tidak perduli! Sodokan penisnya ditarik dan malah didorongkan lagi lebih dalam kuat-kuat seperti dendam padaku. Dari kaca kulihat matanya merem melek, kedua tangannya menahan pinggangku, wajahnya merah sekali. Gerakan dorongan penisnya terasa sakit, tapi nikmat sekali. Tubuhku terguncang-guncang waktu aku mulai semakin menikmati penisnya. Kami sama-sama ngga sadar, tapi jelas kulihat pintu dibuka di belakang kami.. Jantungku berdegup makin kencang seiring dengan kenikmatan yang semakin menjadi di sekitar selangkangan dan seluruh tubuhku. Please.. not her? Sempat aku berdoa-doa dalam hati.. at least not now? Duncan tetap mencengkram pinggangku, pinggul dan pantatku ditariknya semakin menungging mempermudah kami semakin melekat, enak dan dalam sekali. No.. not her, not her wife. Tapi Sheila.. pacar saudara kembar Duncan. Sekilas dia terkejut dan cepat-cepat menutup pintu mengunci di belakangnya, menatap kami dari posisinya tertegun.

Duncan menatap Sheila dari cermin.
"Sheila..", di sela erangannya disebutnya juga nama Sheila. Aku tidak perduli.. terasa nikmat menjalar naik sepanjang paha ke selangkanganku. Kuangkat pinggulku..
"Oh Duncan.. Duncaan.. don't stop.. Im almost there!"
Kupejamkan mataku, cengkraman Duncan di pinggangku juga mengencang. Klitorisku terasa berdenyut-denyut, rasanya vagina membesar dan denyutan menjalar ke seluruh tubuhku. Penis dalam liang vaginaku semakin kuat dipompakan keluar masuk. Badanku terus terguncang-guncang dan wajahku menempel di kaca setiap kali dia mendorongkan penisnya. Dengan sebelah tangan kuraih klitorisku, kugosokkan jariku cepat-cepat..
"Duncan!", aku menjerit nikmat.. beberapa kali tubuh bawahku mengejang-ngejang kecil.. orgasmeku tak tertahan.. Sheila, dan keluarga Duncan yang mungkin bisa mendengar di luar benar-benar terlupakan.
"Ooh.. Duncan.." tubuhku mengejang sesaat sebelum mulai melemas kecapaian waktu ditariknya sedikit ke tepi meja, dan naik sampai kakiku tidak menyentuh lantai.

Kutekuk lututku supaya menyangkut di relief laci. Mendadak Duncan kasar sekasar-kasar yang ngga pernah kubayangkan sebelumnya. Skrotumnya terasa menepuk-nepuk dari belakang. Pahanya juga memukul-mukul bokongku. Bibirnya nyeracau ngga keruan dan dorongan penisnya bener-bener ngga pantas dibilang dorongan, gerakannya sungguh menyodok-nyodok.. "You're mine Mel! You're mine!", suaranya memakiku.
"Arghh..", Penisnya didorongkan kuat-kuat.

Dengan sisa tenagaku, kukontraksikan otot-otot vaginaku mencengkram penisnya, tubuh kami menyatu lekat sesaat. Bersamaan dengan erangan terakhirnya terasa ada yang hangat di bagian dalam tubuhku sekilas, his sperm shot mungkin. Gerakannya berubah pendek dan kaku.. terkilas di benakku dia ngga pakai kondom!! Tapi aku sudah lemas sekali, nikmat sekali. I don't love him as lover, tapi nikmat sekali! Pelan-pelan pelukannya di perutku melemah dan tubuhku kembali bertumpu ke meja. ereksinya melemah dalam liang vaginaku tapi dia malah sedikit bertumpu di punggungku.. sebentar.. dan menciumi leherku dari belakang. Kudengar nafasnya masih terburu bercampur bisikannya membisikkan namaku dan entah apa lagi. Ngga tau yang terengah-engah itu aku atau dia. Sedikit cairan kental turun ke paha dari sela vaginaku waktu penisnya yang sudah melemah ditarik keluar. Sekilas ada rasa kehilangan waktu dia sedikit menjauh. Pelan-pelan aku berbalik, masih bersandar ke meja. Rokku masih bersangkutan dan braku sudah ngga keruan.. Kami bertatapan sungguh ngga tau mau bilang apa. Dari pihakku.. duh capek. Sambil mikirin pakai apa mbersihin spermanya dan entah apa di selangkangan dan pahaku? Dan apa yang di pikiran kedua mata biru di bawah alis pucat berantakan itu? Apa dia menyesal?

"Horny dogs!", Hampir copot jantungku! Sheila melempar sapu tangan ke arahku. Refleks kutangkap.
"Are you mad? They're all in the kitchen!"
Cepat-cepat kulap selangkangan dan pahaku asal-asalan. Kami berdua buru-buru berpakaian agak risih dengan pandangan ipar ilegal Duncan. Sheila pacar kembaran Duncan, perempuan Amerika yang sudah menikah dan menetap di kota tempat tinggal Duncan sini. Maybe that's why dia tenang-tenang aja dengan tingkah kami.
"I thought you two were here..", disodorkannya jaketku. Kali ini aku benar-benar berterima kasih.
"She's still in the kitchen with everybody.. with the shopping"
"Good. I brought her Indo food I cooked myself.."
Kulirik Duncan yang termangu di pinggir meja rias. Sheila menggait pinggangku..
"Come on, leave him alone.. better for both of you if you're seen with me."

Kuikuti Sheila, kami memang berteman baik. Biarin, mungkin lebih baik begini. Everybodys happy and I get tokeep Duncan, my best friend. Sex? Sebodo. Siapa suruh istri begonya ngga ngeladenin? Mana jahat ke aku lagi? Kutinggalkan dia di kamarnya, where we used to play dan cekakakan. Now his room.. with his wife.

Kumpulan foto cewek, cewek bugil, cewek ABG, cewek imut, cewek sekolah, dan foto cewek sexy  semua ada disini. Yang suka cerita panas, cerita seks, cerita mesum juga ada. Semua bacolan lengkap tersaji disini. bacolable.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram