Power Of Love

Saat itu usiaku masih belia sekali untuk ukuran perkotaan, 14 tahun. Pertemuanku dengan seorang laki-laki di daerahku membuatku jatuh cinta, cinta pertamaku, sebaliknya dia pun demikian. Dia sering menungguku saat aku pulang dari sekolah. Cinta pun bersambut, kami sering bertemu. Ada rasa rindu bila sehari tak bertemu. Hubungan kami semakin erat. Mulai mencoba-coba berciuman. Aku ingat selalu saat pertama kali kami berciuman. Rasanya tidak dapat dilupakan hingga kini. Karena terlalu mabuk asmara hingga aku lupa akan mana yang patut dan mana yang tidak, dan itu menyebabkan aku hamil.

Hingga suatu saat aku menerima kabar bahwa dia mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, dan tak dapat diselamatkan. Sangat sedih rasanya hatiku saat itu, sedih yang tak terlukiskan. Aku sudah tidak gadis lagi, apalagi saat itu aku sudah berbadan dua. Bahkan kata saudaraku, aku sempat pingsan berkali-kali, gelap rasanya dunia saat itu, dua hal besar yang membuatku berpikir saat itu bahwa aku kehilangan seorang yang kucintai dan kehamilanku. Apakah aku harus menanggung semua perbuatan tersebut seorang diri? Saat menghadiri pemakamannya ingin rasanya aku terjun di dalam lubang kubur, ingin menyusulnya.

Setelah itu aku mengalami kesedihan yang berlarut-larut, sakit rasanya ditinggal pergi seorang yang kita cintai terlebih ditinggal mati dan secara tiba-tiba. Bila kita diputus pacar mungkin dapat terobati dengan masih bisa kita melihatnya walaupun sudah dimiliki oleh orang lain, tetapi bila telah beda alam, bagaimana mau melihatnya? Kadang ingin rasanya bertemu dalam mimpi untuk mengobati rindu, sekali saja, tetapi semakin aku inginkan malah semakin sulit untuk tidur.

Lama aku mengalami kesedihan, hingga akhirnya aku ditegur oleh orangtuaku. Untuk menutupi rasa kesedihanku aku dinikahkan oleh orangtuaku. Saat aku menemui calon suamiku, aku tidak ada rasa apapun terhadapnya. Aku menyadari kalau ini bukan kemauannya juga, dia hanya sekedar membantuku agar melupakan kesedihanku.

Akhirnya aku melakukan perjanjian dengannya sebelum ke jenjang pernikahan, yang berisi bahwa kamu bisa menikmati seluruh tubuhku tapi jangan harap kamu mendapatkan cintaku dan aku ingin pernikahan ini tidak berlangsung lama, seandainya aku hamil, aku ingin dia segera menceraikanku begitu anakku lahir, dan jangan mencariku, bila anakku menanyakan bapaknya akan aku jawab bahwa dia telah meninggal. Jadi jangan cari aku dan jangan cari anaknya, dia tidak mengetahui bahwa aku sedang hamil benih cinta dari pacar pertamaku.

Perjanjian dia terima, maklum saat itu aku lagi mekar-mekarnya, banyak juga yang menginginkanku. Sementara dia tanpa bersaing hanya dengan penunjukkan langsung, mendapatkan diriku, oleh sebab itu dia segera menerima perjanjian tersebut. Mungkin dalam benaknya buat apa cinta yang penting dia mendapatkan tubuhku serta memenangkan perebutan diriku.

Dengan upacara pernikahan yang sangat sederhana sekali jadilah kami sepasang suami istri. Seperti layaknya sepasang pengantin kami pun mengalami yang namanya malam pertama tetapi tak seindah yang kubayangkan, hanya semu karena memang tanpa didasari rasa cinta yang menyatu. Selanjutnya kehidupan kami pun tak jauh beda dengan rumah tangga yang lainnya. Hingga aku beritahukan kepada suamiku bahwa aku hamil. Dia menanggapi dengan dingin, mungkin dia tahu bahwa benih di perutku bukan dari dia.

Setelah kandunganku sudah mencapai harinya, persalinan telah selesai. Aku mendapatkan seorang bayi laki-laki, di usiaku yang ke 16. Setelah masa nifasku selesai, aku menagih janji pada suamiku. Dia tanpa rasa sedih sedikitpun segera memproses perceraianku. Orangtuaku menanyakan sebabnya, karena kami sudah ada kesepakatan dari awal sebelum pernikahan maka kami melakukan sandiwara agar tujuan perceraian tercapai, akhirnya mereka menerima. Jadilah aku seorang janda dengan seorang bayi laki-laki di usia yang masih muda, hampir 17 tahun.

Mengapa aku memilih seperti ini? Karena buat apa kita hidup bersama dengan orang yang tidak kita cintai. Sementara bayiku merupakan bagian dari hidupku, karena dari benih orang yang sangat kucintai. Aku tetap masih mengenang pacarku yang telah mendahuluiku, darinya lah aku mengenal cinta, yah cinta pertamaku, cinta sejatiku, dan aku masih merasa tetap sebagai kekasihnya walaupun telah berbeda alam.

Setelah aku merasa sudah agak pulih, aku mulai mencoba kerja di pabrik di daerahku, saat itu usiaku menginjak usia 17 tahun lebih. Selama menjadi janda dan pengangguran, untuk sementara aku dibantu oleh kakakku. Kerja di pabrik ternyata lumayan juga, capeknya. Belum ada setahun kerja di pabrik, aku ditawari temanku untuk kerja di Jakarta, tanpa pikir panjang segera aku terima, bayiku aku titipkan pada kakakku.

Pekerjaan di Jakarta yang aku terima sebagai pramuniaga, cukup lama aku bekerja di sini hingga usiaku hampir 19 tahun. Gaji yang kuterima lebih besar dari kerja di pabrik di desaku, tetapi pengeluaranku juga lumayan besar di Jakarta, hingga uang yang aku kirimkan ke desa untuk anakku tidak begitu beda hanya lebih beberapa puluh ribu rupiah saja. Beberapa bulan kemudian temanku yang mengajakku ke Jakarta pindah kerja, tinggallah aku di Jakarta seorang diri, tanpa teman dan saudara.

Suatu hari aku mendapatkan berita bahwa anakku sakit hingga aku harus pulang ke desa. Setelah anakku sembuh aku kembali ke kota, ternyata posisi pekerjaanku telah diisi orang lain dan aku sudah tidak dibutuhkan lagi, sedih sekali rasanya. Aku mencari teman sedesaku yang dulu mengajak ke Jakarta untuk menanyakan apakah ada pekerjaan untukku. Setelah bertemu dia. Dia mengajak bekerja di tempatnya yaitu sebuah tempat pijat. Dia menerangkan pekerjaan yang dia lakukan, juga mempraktekkan langsung ke diriku di tempat kost-annya.

Setelah aku pertimbangkan, hanya seperti itu, yah aku terima. Tanpa menggunakan surat dan Ijazah, aku diterima dan langsung kerja.

Hari pertama, aku kerja, kikuk juga, tadi sih praktek di kamar belakang bisa, sekarang sudah masuk kamar, bingung juga, beruntung aku mendapatkan tamu pertama yang pengertian. Dia memang bertujuan hanya pijat, nggak tahu apakah dia menyenangkan diriku, dia bilang pijatanku enak dan setelah selesai aku menerima uang tips. Enak juga kerja tidak begitu capek tetapi dapat uangnya lumayan, tidak seperti jadi pramuniaga, berdiri terus menerus selama delapan jam yang hanya diberi waktu istirahat satu jam.

Tamu ke dua, mulai meraba-raba, aku tidak sanggup menerimanya hingga kuberikan ke temanku yang lain, senang sekali temanku menerimanya. Aku hanya mau tamu yang hanya membutuhkan pijat saja. Hari berganti hari, akhirnya aku tahu seperti apa tempat kerjaku. Kalau mau dapat uang banyak yah harus berani.

Kata temanku di sini tak ada cinta, yang ada hanya uang. Jangan jatuh cinta dengan tamu. Tetapi puaskanlah tamu, buat agar segera selesai, bayar dan selesai. Merinding aku mendengarkannya. Memang sih tamunya dia banyak sekali. Jangan lihat wajahnya, mau cakep mau jelek yang penting bayar, katanya lagi. Di sini orang cakep tidak laku katanya, yang punya uang yang laku. Dia menunjukkan uang tips yang dia dapat hari ini, dia telah mendapatkan tamu sebanyak lima orang, dua ratus ribu rupiah satu orang, dipotong biaya harian (jajan + main kartu/iseng nunggu tamu + rokok + ngasih roomboy) paling tidak sembilan ratus ribu bersih dibawa pulang dalam sehari sehingga dalam sebulan pendapatan bersihnya rata-rata mencapai dua belas juta rupiah bersih tanpa dipotong pajak penghasilan 21, itu telah dikurangi beberapa hari tidak kerja karena datang bulan.

Kalau aku perhatikan memang sih di sini tak ada cinta, tetapi tetap aja ada rasa cemburu bila tamunya beralih ke orang lain, bukan cemburu karena cinta tetapi karena pendapatannya beralih ke orang lain. Banyak juga yang menjatuhkan orang lain, baik yang secara terang-terangan maupun yang terselubung.

Ada yang bilang ke tamu kalau si ini, si itu, habis sakit phs lah. Ada yang melakukan operasi plastik untuk menutupi kekurangannya, ada yang memasang susuk di tubuhnya, bahkan ke klitnya. Biar laris katanya.

Suatu saat tamu pertamaku dulu ingin bersamaku lagi, karena rindu dengan pijatanku. Oleh karena pernah bertemu dengannya aku sudah tidak kagok lagi, selain itu aku suka dengannya karena sopan, tidak meraba-raba diriku. Aku sih niatnya memang bekerja yakni memijat, karena seragamku memang menggunakan rok mini hingga pahaku bersinggungan dengan pantatnya; posisi dia telungkup dan aku memijat dengan menduduki pantatnya. Nah saat dia telentang nampak penisnya yang sudah membesar, aku tidak perduli, kututupi dengan handuk kecil yang tersedia, aku tetap melakukan pijatan di kaki dan tangannya serta sedikit di bagian perut.

Hingga akhirnya dia memohon dengan sangat, untuk menolongnya mengeluarkan desakan nafsu yang sudah memuncak dengan cara memasturbasi kemaluannya. Pertama aku jawab bahwa aku tidak dapat melakukan hal itu, kemudian aku diajari olehnya hingga dia ejakulasi dan aku mendapatkan uang tips yang lumayan besar.

Akhirnya aku sudah mendapatkan pola kerja, bila tamu ingin main maka aku berikan kepada temanku, bila hanya sekedar pijat aku kerjakan, yah maksimal aku pijat kemaluannya hingga ejakulasi. Lumayan tips yang kudapat dalam satu minggu sama dengan satu bulan kerja sebagai pramuniaga.

Nampaknya bapak yang pertama kupijat itu sudah menjadi langganan tetapku. Pernah dia meminta ijinku, bila aku tak keberatan, ingin rasanya dia memegang tubuhku, pertama sih kutolak, tetapi melihat tingkah lakunya yang sopan dan selalu memberikan uang tips yang lumayan, maka kuijinkan dia meraba tubuhku, dengan syarat aku masih berpakain lengkap; ada juga sih rasa takut kehilangan pelanggan sebaik dia, mengingat persaingan yang sangat besar, anehnya dia tidak mau dengan pemijat lain kecuali dengan diriku.

Pada pertemuan yang kesekian kalinya, dia sudah dapat meraba payudaraku juga kemaluanku, terus terang aku tidak dapat menolak permohonannya yang selalu dikatakan di saat kami bertemu, rayuannya yang membuatku terkadang lupa diri, selain itu uang tips yang kudapatkan juga semakin besar, dan yang tak dapat kuhindari adalah bahwa aku juga memiliki kebutuhan itu, aku tidak munafik, karena aku telah menjanda selama hampir tiga tahun. Asli, itulah pertama kalinya aku merasakan basahnya kemaluanku setelah sekian lama tidak merasakannya, belum lagi resiko pekerjaan yang sehari-hari kuhadapi adalah melihat bahkan memegang kemaluan yang membesar yang menuntut untuk dikeluarkan "isinya".

Hingga si bapak mengetahui kisahku, karena setiap selesai pijat, dia selalu memuaskan diriku dengan jemarinya yang lincah hingga dia sendiri ejakulasi juga, dan dilanjutkan dengan membicarakan masalahku terkadang juga masalah si bapak. Si bapak terkejut melihat perjalanan hidupku seperti itu, yang akhirnya dia memelukku. Ohh rasanya, sudah lama aku tidak dipeluk kaum pria, sepertinya ada perasaan yang pernah hilang, yaitu perasaan dilindungi, rasa aman.

Tak berapa lama bibir kami telah saling bertaut, aku suka cara dia menciumku. Dia dapat membangkitkan gejolak birahiku yang lama padam. Mungkin aku sudah terbawa derasnya arus nafsuku tanpa terasa tidak tahu bagaimana caranya si bapak hingga aku menjadi telanjang bulat. Dengan kesabarannya dia mencium bibirku hingga aku hampir tak bisa bernafas, dan mulai turun ke arah leherku, rasa geli campur nikmat berbaur menjadi satu, aku mencari-cari sekiranya ada pegangan yang dapat kuraih untuk menjadi pegangan karena rasa takut jatuh yang amat sangat, iya jatuh ke dalam jurang kenikmatan, paling tidak untuk membuktikan pada diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi, ini adalah kenikmatan nyata, bukan virtual.

Sprei tempat tidur sudah jatuh ke lantai akibat rontaan kakiku dan kakinya yang bergerak, seperti sedang mendaki bukit, bukit kenikmatan, akibatnya hanya tinggal kasur pegas yang dibungkus bahan seperti kulit yang menjadi licin oleh keringat kami berdua. Aku tetap berusaha mencari pegangan itu, dan kudapatkan kepala si bapak, kuusap rambutnya yang terkadang kujambak karena saking nikmatnya hisapan mulutnya yang melumat kedua payudaraku.

Ciuman bapak semakin turun dan mencapai daerah kemaluanku, aku malu bila kemaluanku dilihat secara dekat, bukan dikarenakan bentuknya yang jelek atau adanya beberapa bekas luka yang hampir hilang di pangkal paha dekat lubang anusku, tetapi aku mengalami basah yang lumayan banyak semenjak kami berciuman, saat itu aku memang lagi nafsu-nafsunya, jadi aku malu bila dia mengetahui bahwa aku benar-benar terangsang. Kututup kemaluanku dengan kedua belah telapak tanganku.

Bersambung . . . .

Ini dia kisah selajut nya selamat menbaca gan bagian 2 lebih seru.
Power of love 2

Dia tidak berusaha membuka tanganku, tetapi tetap menjilati di daerah selangkanganku, oups rasanya, belum pernah aku merasakannya dengan mantan suamiku yang selalu tanpa pemanasan, terlebih lagi dengan pacar pertamaku, semua yang dilakukan si bapak tidak pernah memaksa, bertahap perlahan membiarkanku mabuk dalam kenikmatan.

Dia menjilat turun ke arah kakiku, daging di balik lututku tak lepas dari jilatannya, kemudian berbalik ke atas kembali, ouhss, rasanya seperti jatuh, jatuh, dan jatuh. Tak kuat aku akhirnya, kulepaskan kedua tanganku yang berada di kemaluanku untuk mencari pegangan, dan yang kudapatkan kepala si bapak lagi, terbukalah kemaluanku di hadapannya.

Nampaknya tanpa menyia-nyiakan kesempatan, si bapak segera mencium vaginaku, kaget rasanya waktu itu, jangankan kemaluan, pahaku saja belum pernah dicium lelaki. Oooh, benar-benar luar biasa, tak lama si bapak menghisap klitorisku. Oups, semakin cepatlah arus jatuhnya tubuhku ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam, tanpa terasa kepalaku terdongak ke atas, sebagian punggungku terangkat ke atas sembari siku tanganku menahan di atas kasur pegas serta melepaskan jambakan rambutnya.

Sudah tidak ada rasa malu lagi saat itu, kutekuk kedua kakiku dan kubuka lebar, kubiarkan dia menjelajahi kemaluanku dengan ujung lidahnya, sudah tidak terhitung berapa kali aku menjepit dan melepas kepala si bapak dengan kedua pahaku demi menahan gelombang kenikmatan yang datang silih berganti. Desahan yang dari tadi kutahan dengan mengatupkan kedua rahangku pun jebol, dan tanpa sengaja menjadi lenguhan yang tak terkontrol.

Hingga bergetar seluruh tubuhku, kutekan wajah si bapak ke kemaluanku, hisapan mulut si bapak semakin kuat. Akhirnya aku pun mencapai orgasmeku yang pertama dalam hidupku, lemas dan lunglai, capeknya minta ampun. Si bapak menghentikan aktifitasnya guna memberikan kesempatan padaku untuk bernafas yang dari tadi nafasku tidak teratur. Kupegang kemaluanku basah sekali, campuran antara ludah si bapak dengan lendir kenikmatan, malu benar rasanya waktu itu. Si bapak melihat kedua bukitku yang mengembang-kempis akibat nafasku yang belum teratur dan tak lama dia telentang di sisiku.

"Puas.." katanya.
Tidak kujawab pertanyaannya, aku hanya senyum, kurasa itu pertanyaan yang tak perlu dijawab, dia pasti sudah mengetahuinya dari jarak dekat saat melahap kemaluanku tadi.
Dia bilang, "Kalau kamu puas aku senang koq. Adalah merupakan kebahagian tersendiri apabila seorang lelaki dapat memuaskan wanita," sambil menyisir rambutku yang menutupi sebagian wajahku ke samping dengan tangannya.

Aku senang sekali dengan caranya dia melakukan, tidak merasa seperti seorang pemenang yang mencemoohkan lawannya yang kalah, tidak membuatku malu walaupun sebenarnya aku sudah sangat malu karena aktivitas tak terkontrol yang kulakukan tadi hingga basahnya kemaluanku.

Tanpa rasa malu lagi, sudah terlanjur basah, ibarat nasi sudah menjadi bubur, maka akan kubuat menjadi bubur yang nikmat, kataku dalam hati. Langsung kunaiki tubuhnya dan memasukkan kemaluannya yang masih keras dari tadi ke dalam kemaluanku yang sangat basah, dan aku melakukan gerakan bak seorang joki. Kadang di sela-sela genjotanku, kami saling beradu ciuman, semakin meningkatkan birahiku, libidoku cepat naik bila berciuman.

Beberapa saat kemudian kurasakan kemaluannya semakin besar, besar, dan besar, hingga dia terbangun dari tidurnya dan memelukku dengan sangat kuat sambil menciumku dengan hisapan yang sangat kuat dan tetap melakukan goyangan seperti kapal di tengah laut. Genjotannya membuat klitorisku tergesek oleh bulu kemluannya. Ooouh, dan aku merasakan denyutan-denyutan halus yang teratur dari kemaluannya yang semakin membesar yang tak lama menyemburan cairan panas yang memancar di dalam kemaluanku. Walaupun telah memancar, dia tetap menggoyang dan anehnya kemaluannya tidak segera mengecil seperti milik mantan suamiku. Ooohss, akhirnya aku mendapatkan orgasmeku yang kedua dalam hidupku.

Itulah pengalaman pertama bersetubuh dengan tamu. Kami lakukan setiap bertemu, kalau dia tidak datang aku yang mengundangnya agar datang ke tempat kerjaku guna memuaskan kebutuhanku. Hingga akhirnya dia menghilang tanpa bekas. Karena kebiasaan mendapat uang tips dari bapak tadi, nah begitu dia menghilang, berkuranglah pendapatanku. Akhirnya aku memilih-milih tamu yang manakah yang layak kujadikan sebagai pengganti si bapak.

Aku mendapatkan penggantinya. Seperti halnya si bapak yang dulu, dia pun hilang juga tak berapa lama. Lama kelamaan aku mulai tahu apa sih yang dibutuhkan lelaki hingga akhirnya aku tidak lagi memilih-milih tamu karena kebutuhan ekonomiku semakin meningkat apalagi anakku sudah semakin besar. Berdasarkan pengalaman dengan kedua tamuku yang pertama tadi, aku mulai menerapkan bahwa aku harus melayani mereka dengan seutuhnya, inilah resepku hingga kini. Walau aku sudah setengah tua, tetapi tamuku tidak kalah banyak dengan pendatang baru yang muda-muda dan cantik.

Yang dibutuhkan oleh lelaki yang ke sini adalah perhatian, kemanjaan, dan tentunya seks. Tidak semua tamu kuberikan pelayanan seutuhnya, ada yang hanya seks saja, tetapi ada juga yang tanpa seks, hanya kemanjaan, minta dielus-elus kepalanya, didengarkan keluhannya, bahkan ada yang minta pendapat, tidak ubahnya seperti pacar, istri atau teman.

Satu hal yang kuhindari adalah meminta lebih, aku hanya meminta sesuai harga yang ada di tempatku, bila mereka memberi lebih aku terima, kalau kurang yah aku panggil satpam. Ada juga yang merasa puas kudiberi hadiah mulai celana dalam atau bra; hingga di rumah sekarang terdapat bermacam CD dan bra aneka bentuk dan warna; cincin, gelang, bahkan handphone.

Banyak teman kerjaku yang sering merengek-rengek kepada tamunya, minta lebih untuk bayar kost-kost-an atau untuk beli pulsa telepon, bahkan minta untuk beli susu buat bayinya. Temanku yang minta susu ini aneh, dia hamil oleh tamunya sendiri, dan itu dia sengaja, dengan alasan karena tamunya cakep, dia ingin anaknya cakep seperti tamunya, akhirnya hamil juga sih, dan dia tetap bekerja walaupun hamil, banyak teman yang meledeknya, kalau anaknya nanti lahir perempuan disuruh beri nama "Mira" karena "milik rame-rame", kalau laki-laki disuruh beri nama "Bram" karena "bramai-ramai".

Pernah suatu hari, ada seorang yang sudah berumur datang ke tempat kerjaku membawa seorang notaris, kaget juga aku waktu itu, kami sekamar bertiga. Tidak tahunya, si bapak ingin melamarku dan memberikan sebuah rumah, untuk itu dia masuk bersama notaris. Aku menolak pemberiannya, karena dia mempunyai istri dan anak, aku tidak mau merampas milik orang lain. Aku memang kotor, tetapi aku tidak merampas suami orang, kalaupun mereka datang ke sini juga bukan kemauanku tetapi mereka datang atas kemauan sendiri.

Saat yang sulit adalah datangnya bulan puasa. Hari pertama aku di rumah kakakku, oh iya kakakku pindah ke Jakarta, aku beri modal untuk usaha juga kutitipkan anakku. Hari pertama hingga ke tiga masih dapat bertahan, berikutnya aku sudah tidak megang uang. Lain dengan teman-temanku, sebelum puasa, mereka mengejar setoran, istilahnya membuat lumbung, hingga dapat bertahan 45 hari sampai tempat kerja buka seperti biasa, karena di bulan puasa, jam operasi sangat pendek, jumlah tamu sedikit, sementara pekerjanya lumayan banyak.

Ya sudah, aku keluar rumah, dan mencoba memilih short message system yang ada di handphoneku. Kuhubungi mereka bila tertarik, selanjutnya kami melakukan di hotel. Nah setiap hari aku lakukan seperti itu, pagi hingga sore di hotel, menjelang malam ke tempat kerja, terkadang kalau sudah dapat uang banyak, akhirnya bolos tidak masuk kerja.

Terus terang tidak semua penghasilanku habis, tetapi kusisihkan. Aku sudah membeli sawah di kampung, juga beberapa hewan ternak, membuat rumah untuk masa tuaku nanti, tabungan buat sekolah anakku kelak. Beberapa teman ada juga yang melakukan hal yang sama, tetapi ada juga yang habis di meja judi atau habis untuk mengkonsumsi narkoba.

"Begitu lah, Mas, perjalanan hidupku dalam sepuluh tahun terakhirku, tidak ada yang bagus khan?" kata si mbak.
Tak terasa sudah dua jam aku berada di dalam kamar. Aku tidak begitu nyaman bila berlama-lama mengingat banyaknya tamu yang mengantri menunggu gilirannya, makanya aku masuk ke kamar lebih dulu tadi sambil menunggu giliran. Masih banyak sih yang ingin kutanyakan, tapi melihat yang antri aku jadi jengah juga, nampaknya dia pun tahu keadaanku.

Kubayar tips buat dia, walau aku tidak menyentuhnya.
"Buat apa Mas?" katanya sambil mengembalikan uangku.
"Khan aku sudah menggunakan waktumu," jawabku.
"Iya tapi Mas kan belum ngapa-ngapain!" katanya.
"Atau mau sekarang saya layani," jawabnya sambil menurunkan roknya."Nggak-nggak usah.." kataku sambil menaikkan lagi roknya.
"Kenapa?" katanya.
"Ngg, aku sedikit cemburu tadi," kataku sambil mengambil sepatuku di dekat tirai, dan memakainya. Diciumnya pipiku.

*******

Sebelum aku bersamanya, dia sedang tugas. Karena capek aku ijin sama Mbak resepsionis untuk masuk duluan, aku pesan nanti kalau mbaknya sudah selesai tugas mohon langsung ke kamarku. Aku mulai menidurkan tubuhku, eh di kamar sebelah suaranya seru banget, mphs, sshuah, plak, plak, plak, cup, cup, eh, eh. Gimana mau tidur bila ada suara seperti itu. Lama kelamaan kok aku sepertinya kenal dengan desahan dan suara kecupan seperti itu, kalau plak-plaknya sih pasti suara paha yang diadu. Tak lama selesai pertempuan mereka, segera aku keluar mau kencing.

Tampak seorang lelaki dengan hanya menggunakan sepotong handuk kecil keluar dari kamar, kuikuti dari belakang karena kami ke tempat yang sama. Begitu melewati kamar tadi, nampak tirainya tidak ditutup, seorang wanita tanpa malu sedang berusaha menutup kimononya, tampak payudara dan kemaluannya yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat ada sebagian bulu kemaluannya yang basah, juga ada lelehan sperma yang jatuh ke pangkal pahanya.

"Eh Mas, sama siapa Mas?" tanyanya.
"Nggak tahu tuh, udah pesen sama Mbak depan kok belum dianterin," kataku berlalu masuk kembali ke kamarku.

Tidak berapa lama, dia masuk ke kamarku dan,
"Ih, jelek deh luh, bilang dong kalau lagi nunggu saya," katanya.
"Emang kenapa kalau bilang?" tanyaku.
"Khan bisa kupercepat," jawabnya.
Selanjutnya kami melakukan pembicaraan ringan dan dilanjutkan dengan kisahnya seperti yang kutulis di atas.

*******

"Ya sudah, kalau gitu, nggak usah cemburu, aku khan suaminya banyak," katanya.
Aku pun pamit dengan mencium pipinya juga. Saat di ruang resepsionis, banyak sekali yang antri, masih ada tiga orang yang menunggu dia, paling tidak yang terakhir akan dapat giliran empat jam tiga puluh menit kemudian, dan tak akan meninggalkan antrian kecuali kalau gilirannya akan dipakai orang.

Begitulah cinta, cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang jaman, sehina apapun seorang ibu tidak akan menelantarkan anaknya, dia tetap berusaha dengan cara apapun agar anaknya tidak "seburuk" ibunya. Tidak ada dalam kamus "bekas anak", yang ada bekas suami, bekas istri, bekas mertua, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu dia akan berusaha semaksimal mungkin membahagiakan anaknya.

Aku cemburu, sedemikian kuatkah "power of love" jangan ah, jangan sampai deh cemburu sama wp, bisa runyam, habis suaminya banyak sih. Segera kujalankan kendaraanku dan tak lama terdengar Power of Love-nya Celine Dion.

Akhirnya, hati-hati jangan bermain api, sakit kalau terbakar nanti.
Hati-hati dalam bercinta, akan sakit sekali bila patah hati.
Itu salah satu dampak dari "Power of Love".

Kumpulan foto cewek, cewek bugil, cewek ABG, cewek imut, cewek sekolah, dan foto cewek sexy  semua ada disini. Yang suka cerita panas, cerita seks, cerita mesum juga ada. Semua bacolan lengkap tersaji disini. bacolable.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram